Menemukan Kedewasaan Dari Best Choice Ever

Atmosfer awal bulan ini mengantar kita pada hangatnya perayaan Imlek. Gaungnya sudah ada didepan mata. Setidaknya saat ini kita butuh suguhan bernuansa oriental.
 

Riuh Tren Dracin

Bicara soal kultur oriental modern, rasanya sulit untuk berpaling dari fenomena paling berisik belakangan ini: micro drama alias short dracin. Kerap menonton diam-diam ? Tidak perlu malu, mengangguklah yang tipis agar tidak ketahuan orang di sekitar Anda.

Karya berdurasi micro lebih kurang seperti cover version. Hadir dengan tema, konflik dan alur yang template. Namun di tengah kebutuhan tayangan yang serba instan tersebut, penikmatnya justru melimpah ruah.

Kali ini Nyonya Derau juga mau ikut menyelami dracin, namun bukan untuk membahas formula klise pembiusan masuk kamar CEO kaya raya. Kita akan membedah serial yang panjang dengan kedalaman tema yang menarik. Based on novel Chéng Huān Jì karya Yi Shu, mari beri ruang untuk Best Choice Ever.

Pertarungan Dua Generasi Perempuan

Sebagai warning, jika Anda berharap maraton 37 episode untuk kisah romansa mendayu-dayu lebih baik ditahan dulu. Alih-alih menyuguhkan drama cinta standar, Best Choice Ever menawarkan kisah ibu dan anak perempuan yang berjuang menghadapi trauma mother wound. Dengan percikan romansa tokoh utamanya sebagai subplot cerita.

Chenghuan dan Ibunya, Liu Wanyu. Sumber gambar Mydramalist.


Tokoh utama serial ini bernama Mai Chenghuan. Sulung dari pasangan Mai Litian dan Liu Wanyu. Meski paska 1995, banyak keluarga di Shanghai menerapkan one child policy, beruntung Chenghuan masih memiliki adik laki-laki. Namanya Mai Chengzao.

Kehidupan mereka secara finansial cenderung rendah untuk ukuran warga metropolitan. Namun urusan pendidikan dan moralitas, keduanya tumbuh dengan kualitas jempolan.

Penggambaran keluarga mereka awalnya terasa hangat dan akrab. Namun dibalik permukaan keharmonisan itu, Liu Wanyu adalah produk nyata dari era Reformasi Ekonomi Tiongkok pada 1980-1990an yang menyisakan sekeranjang 'dendam' pada keluarga kecilnya. Aturan tak tertulis untuk melepas karier dan mimpi demi stabilitas keluarga mempengaruhi mentalnya secara mendalam. Tanpa disadari, luka mother wound pun tertanam kuat sejak Chenghuan kecil, bertindak sebagai bom waktu yang siap meledak kapanpun.

Gesekan pertama terjadi saat Chenghuan menghadapi tekanan pernikahan. Jelang 30 tahun, membuat Wanyu takut Chenghuan menjadi Sheng Nu- istilah oriental untuk wanita sisa yang terlambat menikah. Iapun mulai terlalu proaktif mengatur agar Chenghuan dan pacarnya Xin Jialiang segera menikah. Perlu dicatat Xin Jialiang bukanlah tokoh utama pria dari serial ini. Dari titik ini, barisan prahara batin datang silih berganti.

Benturan pola asuh justru menumbuhkan validasi emosional keduanya. Hubungan ibu anak ini terus bermutasi seperti "Tom and Jerry", saling merindukan saat jauh, namun saat berdekatan terus meletuskan konflik secara psikologis. Kondisi yang malah semakin menyuburkan mother wound itu. Sampai kemudian kita tersadar ada sosok male lead yang sesungguhnya, Yao Zhiming yang dihadirkan sebagai salah satu katalisator bagi proses penyembuhan mandiri kedua perempuan tersebut.


Drama ini juga dibumbui suasana bisnis di bidang retail dan perhotelan yang dinamis hingga kisah pilu dari panti adiyuswa. Tidak ada tokoh yang benar-benar hero. Semua menanggung beban validasi emosi dan ekonomi. Meski harus diakui dari segi penokohan, citra seorang CEO drama Cina modern adalah baru kembali dari luar negeri, cerdas, berkarakter dingin, penuh ambisi, sedikit canggung namun berparas menawan. Beruntung, setidaknya kali ini tidak ada adegan pembiusan yang konyol.

Berdurasi 45 menit dalam 37 episode, Best Choice Ever terasa panjang dan melelahkan. Sangat terasa jika kita menyandingkannya dengan novel yang hanya terangkum dalam sembilan bab.

Novel Chéng Huān Jì

Diadaptasi dari novel karya Yi Shu, penulis kelahiran 24 September 1946. Versi cerita aslinya mengambil latar Hongkong di tahun 1995 dengan judul Chéng Huān Jì atau Story of Joy yang resmi terbit pada 1996.

Hongkong pada waktu itu dalam kondisi sosial dan konstelasi politik yang rumit, meski secara ekonomi meroket tajam. Kondisi yang malah melahirkan generasi awal tiger mom- para ibu yang menerapkan pola asuh super ketat dan menuntut. Dalam salah satu baris terjemah novelnya, atmosfer itu terasa sangat gamblang :
Jangan tertipu oleh betapa makmur dan majunya kota ini, jauh di lubuk hatinya kota ini bukanlah kota Tiongkok maupun Barat, bukan pula kota baru maupun lama. Di mata kebanyakan orang, seorang wanita muda lebih diinginkan daripada seorang istri. Selain itu jika memungkinkan, jangan pernah menjadi wanita yang pernikahannya gagal.

Yi Shu sendiri merupakan tokoh yang kaya pengalaman lintas budaya. Ia menempuh pendidikan di Inggris dan memilih menetap di Kanada. Namun karya-karya sastranya setia mengambil latar tempat dan akar budaya Tiongkok.

Rekam jejaknya sebagai jurnalis turut memengaruhi gaya penulisan yang terhitung blak-blakan bagi ukuran standar norma Asia. Ia menguliti isu sensitif seperti : gender, seksualitas, konsumerisme, konflik hubungan ibu-anak hingga manifestasi karakter protagonis perempuan yang independen.




Meski demikian banyak pengamat menilai Chéng Huān Jì adalah karyanya yang paling lembut untuk diterima dalam ruang budaya oriental yang patriarki. Maka tidak heran, selaku versi serialnya Best Choice Ever masih bisa dapat meraih peminar ditengah gempuran masif short dracin. Meskipun haris diakui secara jujur, daya tarik utamanya adalah barisan pemeran utamanya: Yang Zi, Xu Kai dan He Seifei. Lantas jika harus memilih, manakah yang lebih menarik antara novel atau serialnya ?

Perbandingan Novel dan Serial

Karena novel terjemahan resmi belum pernah saya temukan, praktis hanya mengandalkan versi digital yang tersedia disini. Fitur terjemah otomatis pada platform daring umumnya kurang memberikan hasil memuaskan, terutama pada bagian kalimat yang mengandung makna budaya. Personally, saya menilai serialnya cukup bisa menerjemahkan esensi kultural tersebut agar lebih ramah dan adaptif bagi konsumen pasar global.

Namun sebagai sebuah karya adaptasi, perubahan struktur menjadi tidak terhindarkan. Scriptwriter Li Jinglin memilih mengeksplorasi dunia profesioanl Chenghuan di Hotel Botticelli. Saya tebak ini sebagai penghormatan terhadap sang penulis asli, karena Yi Shu sempat mengambil studi managemen perhotelan. 

Selain itu porsi kemunculan Yao Zhiming menjadi lebih dominan dalam serial. Padahal dalam novelnya, karakter pria ini  hanya melintas sambil lalu menjelang ending ceita.

Sementara konflik hubungan ibu-anak terjalin sangat pekat sepanjang serial. Kerja keras He Saifei sebagai sang ibu menuai sukses besar. Penonton membencinya, namun diam-diam secara simpati mengiyakan perilakunya.

Kabar mengenai adanya pemboikotan tidak resmi dari fans menguar setelah mereka menyadari bahwa serial ini bukan romansa yang menyajikan kemesraan Chenghuan dan Zhiming seperti dalam materi promo. Diluar ekspektasi pasar, Best Choice Ever justru bertransformasi menjadi gambaran apik perjuangan anak perempuan untuk lepas dari jerat dominasi sang ibu demi bisa hidup seutuhnya sebagai manusia merdeka.

Perlu digarisbawahi, bahwa esensi perjuangan perempuan yang pelik cenderung bergeser baik dalam novel maupun serialnya. Dalam novel, penyampaian kasus trauma mother wound disampaikan secara bergulir dalam curhat antara Chenghuan dengan sahabat petempuannya, Mao Yongxin. Sementara dalam serial, peran Yongxin sebagai ruang aman bertukar pikiran sedikit banyak didelegasikan kepada kekasihnya, Yao Zhiming.


Overall, tayangan Best Choice Ever memiliki kualitas yang solid. Terlepas dari adanya plot twist tambahan untuk memperpanjang durasi penayangan.

Lagu di Latar Layar

Sebagai mantan orang radio, indera dengar telah otomatis menganalisa deretan nada di setiap tayangan. Serial ini pun tak luput dari lagu bertempo panjang untuk mengiringi dinamika psikologis karakternya. 

Deretan lagu bermelodi Tiongkok dengan karakter lembut dan emosional dapat ditemukan dalam lagu : How To Love (Yisa Yu), Good Night (Hu Xia), How Many Years, Hours and Minutes (Jen Wenqi), Remember (Zhou Shen), hingga lagu penutup yang dinyanyikan kedua aktris utamanya berjudul It's Mother It's Daughter. 

Vokal lembut yang berpadu dengan denting instrumen polifoni baik piano ataupun gitar akustik menunjukkan bahwa drama ini secara kultural dituntut untuk tetap terlihat elegan. Letupan emosi naik turun tiap adegan tidak harus diledakkan. Riuh emosi itu ditutup dengan sebuah helaan napas penerimaan sebagai bentuk sikap pasrah yang dewasa, meskipun terasa getir di dada. 

Semoga Sincia kali ini menjadi lebih bermakna.  Gong Xi.

Komentar

Popular

Menakar Rasa Peranakan The Little Nyonya

Shibakomo, Kolaborasi Twin Guitars Beda Generasi