Menakar Rasa Peranakan The Little Nyonya

Bagi penikmat period drama, "The Little Nyonya" (2020) hadir sebagai remake yang ambisius. Serial ini merupakan garapan ulang drama legendaris berjudul sama produksi Mediacorp Singapura pada 2008 silam. Mengingat versi teranyarnya digarap oleh rumah produksi Tiongkok, tidak heran terdengar aksen berbeda pada pelafalan "Nyonya" di sepanjang episode.


Nyonya adalah sebutan bagi perempuan Malaka peranakan Tionghoa. Mereka meredam riuh gegap budaya akibat lahir bermil-mil dari akar bangsanya. 

Serba Nyonya

The Little Nyonya menyajikan visualisasi keanggunan tradisi Baba Nyonya. Di balik kebaya encim, sarung batik dan sandal mote yang dikenakan, mereka menyajikan warisan gastronomi yang menggugah selera.  Sebut saja kue ku, talam, dadar gulung hingga laksa. Bukti jalinan akulturasi Tiongkok dengan kekayaan cita rasa Semenanjung Melayu. Dan kedua versi drama menenun pernak-pernik tradisi itu secara apik. 

Pergeseran produksi drama The Little Nyonya usai dua belas tahun berselang tak menyisakan canggung lantaran kehadiran kembali aktor Dai Xiangyu sebagai Yousuke Yamamoto. Entah ramuan apa yang ia gunakan, sebab parasnya menolak tua dan mengabaikan waktu. Menariknya, porsi karakter fotografer asal Jepang ini tergali lebih dalam, seolah menyingkap tabir yang menggantung di benak penonton sejak tahun 2008.

Sinopsis The Little Nyonya


"The Little Nyonya" membabar ketangguhan perempuan peranakan lintas generasi. Diawali dari generasi kedua bernama Ju Xiang. Meski terlahir dari istri kedua, ketrampilan yang dimiliki sangat khas seorang Nyonya. Sayang, perlakuan diskriminatif keluarganya membuat Ju Xiang menghabiskan hari-hari di dapur. Ia menemani ibunya, Tian Lang yang pada awalnya adalah pelayan keluarga Huang yanf kaya raya. Kematian Nenek Huang menyisakan tragedi pada Ju Xiang yang mengalami bisu tuli pada usia 9 tahun. Dan sejak itu, perjalanan hidupnya yang berliku dimulai.

Hidup dalam kungkungan budaya patriarki, menjadikan para Nyonya tak punya banyak pilihan untuk hidupnya. Akses mengenyam pendidikan dibatasi, pergaulan diawasi, dan tentu saja urusan pernikahan pun diatur keluarga.

Di kediaman keluarga Huang, Ju Xiang juga tinggal bersama ayah, istri pertama ayahnya dengan ketiga saudara tiri. Sebenarnya sang ayah cukup baik, namun tidak dengan anggota keluarga lainnya. Menonton bagian ini terasa seperti menyaksikan Cinderella atau kisah Bawang Merah Bawang Putih. Membuat penonton seolah menanti ada pangeran menjemput dan menyelamatkannya.

Meski disukai beberapa pria Baba dari keluarga terpandang, pilihan Ju Xiang justru jatuh pada seorang fotografer keturunan Jepang, Yousuke Yamamoto. Takdir mempertemukan mereka dengan alur yang tragis. 



Jelang Perang Dunia II, sentimen terhadap Jepang meningkat di Asia Tenggara. Banyak keturunan Tiongkok di Singapura dan Malaysia turun berdemo meminta Jepang angkat kaki dari wilayah mereka. Situasi ini menjadi ujian berat bagi Yousuke, apalagi saat itu kondisi Ju Xiang tengah hamil anak pertama mereka.

Penokohan drama kemudian beralih ke generasi ketiga Yue Niang Yamamoto. Menyaksikan ayah ibunya mati ditangan tentara Jepang membentuk karakternya menjadi kokoh dan mandiri. Ia lalu kembali ke rumah keluarga Huang untuk tinggal bersama neneknya. Kisah terulang, ia juga menerima perlakuan tak adil. 

Yousuke dan Ju Xiang, orang tua Yue Niang dalam salah satu adegan "The Little Nyonya" tahun 2008.


Ketangguhan Yue Niang mempertahankan martabat seorang Nyonya dalam tradisi Baba Nyonya memang memikat. Dalam rentetan episode yang panjang, beruntung saya menemukan banyak kesamaan budaya yang mampu berperan sebagai jangkar emosi. Selain sinematografinya yang sangat juara memanjakan mata. Satu-satunya catatan kritis yang mengusik estetika visual adalah latar tempatnya yang terlalu artifisial. Kita paham betul kawasan Pecinan Asia Tenggara justru jauh dari kesan rapi, steril dan simetris. 

Lagu Tema

Sebagai mantan orang radio, insting saya otomatis langsung menajam saat melodi pembuka mengalun. Di telinga Nyonya Derau, lagu berjudul Beautiful For Whom yang dibawakan oleh Young 曹楊 ini terasa kehilangan akar budayanya. Lagu ini terdengar seperti soundtrack drama romansa Tiongkok pada umumnya daripada citra Peranakan.

Sebaliknya, mari kita tengok ke tahun 2008. Olivia Ong sepatutnya bangga karena lagu pembuka bertajuk 如燕 digarap dengan jenius. Nada pentatonis Tiongkok berpadu dengan cengkok Melayu yang menghasilkan nuansa hangat sekaligus getir. Versi ini paling lekat di hati saya. 
Seandainya kemegahan visual modern dan keautentikan nada masa lalu bisa bersatu secara selaras. Maka lewat perpaduan keduanya, duka masa lalu para Nyonya di Tanah Malaka tak lagi terasa jauh. Ia bahkan berderau di telinga setiap kaum Nyonya.

Komentar

Popular

Shibakomo, Kolaborasi Twin Guitars Beda Generasi