Eka Sapta, Cetakan Skena Industri
Senada dengan namanya, mereka bertujuh saat menyatukan kreativitas dalam bermusik. Membentuk kelompok bernama Eka Sapta yang mewarnai blantika musik Indonesia pada 1963 sampai 1975. Meski waktu telah bergulir sedemikian jauh, beruntung album generasi ketiga mereka rilis saat saya masih berkutat dengan Cool Edit Pro 2.0. Album itu berjudul "Eka Sapta: A Musical Journey of 3rd Generations" produksi Musica Studio's pada 2008.
Instrumentalia Superband
Industri musik Indonesia di era kemunculan Eka Sapta sedang tak kuasa membendung invasi pop melayu. Bedanya pop melayu pada periode 1960-an berkutat dengan keaslian instrumen tiup, lirik bersahaja dengan tambahan unsur elektrik. Bukan akar musik pilihan Eka Sapta. Karena band instrumental ini lebih cenderung di jalur pop, jazz dan rock n' roll. Mengejar tren popular di dunia barat.
Eka Sapta terbentuk pada 1 Juni 1963 dibawah pimpinan Sapta Tunggal. Adapun nama personelnya kini dikenal sebagai maestro, diantaranya: Bing Slamet (vokal), Muljono (piano), Benny Mustafa (drum), Darmono (vibraphone), Ireng Maulana (gitar), Itje Kumaunang (gitar) dan Idris Sardi (biola, bass).
Meski belakangan bergabung, Idris Sardi menyetujui ajakan Bing. Kelompok ini mendapat dukungan Yamin Widjaja yang akrab disapa Ceng Li, seorang pemilik toko elektronik Eka Sapta. Uniknya, toko ini sekaligus bergerak di bidang distribusi rekaman musik. Seolah tanda restu semesta, Eka Sapta menjadi nama band tersebut beriring niat Yamin Widjaja membentuk perusahaan rekaman sendiri.
Menyelaraskan passion dan kebutuhan industri ditambah adanya pelarangan musik ngak ngik ngok secara nasional, Eka Sapta mengambil celah melalui peran penting sebuah band pengiring. Dengan talenta diatas rata-rata, Eka Sapta bukan sekedar supporting member bagi solois yang tengah diorbitkan namun justru mencetak hits. Padahal konsep musiknya kebarat-baratan atau ngak ngik ngok itu tadi, namun Eka Sapta dapat lepas dari jerat sensor.
Mereka mengekor The Ventures dengan cerdas. Memperkenalkan diri sebagai band instrumentalia dengan notasi lagu-lagu tradisional. Debut albumnya sukses di pasaran. Diproduksi Remaco, album ini berisi enam track. Side A berisi : Tirtonadi, Gambang Suling, dan Euis. Sementara di side B ada karya original baru berjudul Gadisku, Herlina, serta Kalau Djodo.
Warisan Generasi Musisi
Dalam perjalanan sebuah band, bongkar pasang personel tentu tak bisa dihindari. Beberapa nama tercatat pernah bergabung. Diluar tujuh orang pendirinya, generasi pertama Eka Sapta juga mengenal Kibout Maulana, Enteng Tanamal dan Eddy Tulis sebagai personel.
Usai hiatus pada 1967, generasi kedua Eka Sapta mulai terbentuk yang terdiri dari Jopie Item, Rully Djohan, Henky Makasuci, Papo Pareira, Ronny Makasuci dan Hengky Firmansyah. Uniknya, Eka Sapta tidak mengenal istilah mantan anggota. Personel yg memilih berfokus diluar Eka Sapta kemudian menjadi anggota kehormatan dengan aturan siap diajak jamming sewaktu-waktu
Penyebutan istilah generasi pertama dan kedua seolah melahirkan gelar turun temurun, Generasi ketiga Eka Sapta melibatkan anak keturunan mereka yang juga pesohor seperti Audy Item, Lukman Sardi, Ali Mustafa, Karis Bing Slamet dan Andrea Maulana. Dengan tetap menghadirkan personel asli yaitu Idris Sardi, Jopie Item, Kiboud Maulana, Ireng Maulana, dan Benny Mustafa.
Album Tribute Keluarga
Mengusung konsep tribute, album "A Musical Journey of 3rd Generations" berisi daur ulang repertoar yang pernah dikulik ayah ataupun kakek mereka di Eka Sapta. Album ini memang terbilang sepi peminat namun tetap memiliki penikmat setianya.
Berisi 9 track, mendengar album ini akan semakin terasa unik saat membandingkannya dengan versi lawas Eka Sapta yang dapat didengar tanpa admisi melalui iramanusantara.org atau musictime.nl.
Album dibuka dengan lagu berjudul "Kau Harapanku" milik Kiboud Maulana dan dinyanyikan all artist. Bukan sesuatu yang meninggalkan kesan mendalam namun dapat menjadi jembatan memasuki track berikutnya yang penuh warna.
Berikutnya, aktor kenamaan Lukman Sardi membuat kejutan dengan unjuk suara menyanyikan "Kunanti Jawabmu". Lagu ciptaan Imam Kartolo ini sebenarnya masih cukup populer. Pernah dipopulerkan melalui film berjudul sama yang diperankan dan sekaligus dinyanyikan Rahmat Kartolo, saudara sang pencipta lagu.
Dengarlah seruan hatiku, aku cinta padamu. Sebuah lirik manis yang singable.
Selanjutnya puteri dari Adi Bing Slamet. Karis didaulat membawakan "Permata Bunda". Dalam balutan ballad yang menyerupai pengantar tidur, tema ini tepat dinyanyikan anggota termuda di Eka Sapta generasi ketiga. Sebelumnya penyanyi senior Lilis Surjani pernah mempunyai album dengan iringan Eka Sapta yang salah satunya memuat single ini.
Solois cantik Audy kebagian menyanyikan karya Itje Kumaunang yang berjudul "Janji Kasih". Dulu, lagu ini pernah dipopulerkan duo favorit remaja tahun 1960-an Tom & Dick. Di tahun 1963, Tom & Dick memang bekerja sama dengan Eka Sapta.
Beralih ke track lainnya, mantan anggota boyband Coboy yaitu Ali Mustafa menyanyikan karya Jessy Wenas berjudul "Seorang Diri". Gesekan biola Idris Sardi di bagian intro terasa khas mengiring vokal Ali yang lembut. Dilanjutkan lagu berjudul Menantikan Kasih karya Jasir Sjam yang pernah dipopulerkan Vivi Sumanti digarap ulang dengan judul "Menanti Kasih". Dibawakan oleh Andrea putri Ireng Maulana dengan apik.
Bukan Eka Sapta jika dalam albumnya tidak menghadirkan roh bermusik mereka yakni instrumentalia. Musikalitas dengan jam terbang tinggi tertuang melalui "Putih-Putih si Melati", medley "Pileuleuyan/Euis" serta medley "Gambang Suling/Tirtonadi". Namun kali ini terasa berbeda, jika sebelumnya instrumentalia lagu daerah Eka Sapta adalah kamuflase, sekarang mereka mengubahnya menjadi diplomasi.
Dengan sampul berwarna merah berhias motif fleur de lis dan foto-foto hitam putih dapat dipastikan bahwa ada nilai kebanggaan dalam pembuatan album ini. Bukan lagi tentang keteguhan pilihan tema lagu, namun karena setiap karya adalah cerminan industri musik yang tengah berjalan. Hal itu dapat ditengarai dari aransemen, gaya bernyanyi hingga metode perekaman. Dan lagi-lagi keluarga Widjaja selaku pemilik perusahaan rekaman turut andil dari lahirnya album bernuansa nostalgia ini.

Komentar
Posting Komentar