Kode Rahasia Soundtrack House of Ninjas

Tepat pada 00:06 episode pertama serial "House of Ninjas", insting mantan MD saya langsung menyala. Memicu keputusan menyelesaikan serial Jepang ini secara maraton.

Adegan pertarungan ninja di keremangan malam yang dibalut lagu karya Graham Nash sungguh sebuah keputusan mixing yang di luar kebiasaan. Meski secara visual bergenre thriller action, ambience manis dari lagu pembuka ini mengirimkan sinyal kuat bahwa di balik topengnya, ini adalah sebuah drama keluarga yang subtil.


Eksekusi Ide yang  Emosional

"House of Ninjas" mengisahkan tentang klan shinobi (mereka menolak disebut ninja) yang tersisa di abad modern. Mereka berkamuflase di setiap lini kehidupan dari emperan sampai parlemen. Salah satunya keluarga Tawara yang dikisahkan sebagai keturunan tokoh keshogunan Hanzo Hattori

Ide mengawinkan fakta sejarah dan fiksi, muncul dari sang aktor utama, Kento Kaku usai mengantar anaknya yang antusias menyaksikan pertunjukan shinobi dalam sebuah tur sekolah. Ditambahkan fakta sejarah rivalitas Hanzo Hattori dan Fuma Kotaro, David Boyle menangkap frekuensi ide Kento tersebut dan menuangkannya dalam satu cerita orisinal yang solid.

Serial ini berpusat pada keluarga utuh -ditambah sang nenek- yang menempati rumah bergaya tradisional di tengah kota. Sebagai pilar rahasia pertahanan negara, pada awalnya mereka tetap menjaga marwah sebagai spionase. Sampai tragedi hilangnya anak pertama keluarga Tawara dalam sebuah misi enam tahun silam menghentikan tugas mereka dalam mengeksekusi "pekerjaan kotor" di mata pemerintah. Namun kembalinya musuh bebuyutan klan, memaksa mereka masuk ke ruang rekaman konflik mematikan dari masa ke masa.

Selain Kento Kaku yang juga bertindak sebagai co-executive producer, serial ini turut diperkuat oleh performa Yosuke Eguchi (Hajime Saito di Ruroken live action) dan si jenius Takayuki Yamada (Serizawa di Crows Zero).

Perpaduan dengan Musik Barat

Kembali ke departemen audio. Di episode pertama, saat adegan laga intens yang dilakoni sendiri oleh para pemeran keluarga Tawara tanpa bantuan wire, audio di latar belakang justru memutar remake lagu "Our House" versi Tomo Nakayama.

Aransemennya tidak banyak diubah dari versi aslinya, sehingga karakter vokal musisi Jepang yang berkiprah di Seattle ini tetap membawa getaran harmoni vokal ala David Crosby, Graham Nash, dan Stephen Stills. Lewat bait ikonik ini, kita disadarkan bahwa mereka bukan sekadar sekutu taktis, melainkan sebuah keluarga. "...Our house, is a very, very, very fine house..."

Menariknya, kehidupan shinobi modern dalam serial ini diatur ketat secara militer namun bernaung di depertemen budaya. Agar tetap memyaru dengan rapi mereka wajib menerapkan pola hidup tanpa alkohol, daging, rokok hingga urusan asmara pun diatur sangat ketat.

Ruang sosialisasi Jepang yang didominasi kehidupan malam pun terpaksa mereka rambah demi misi. Infiltrasi menegangkan anak kedua Tawara yang tertangkap mata target operasi sekaligus love interestnya di bawah lampu disko secara jenius menghadirkan intro lagu "Nothing's Changed" milik The Zombies. Pilihan intro petikan strumming gitarnya langsung saja menyamai detak jantung kita. "...It's a mistake going back. They tell me that nothing's the same ever again..."

The Zombies mungkin menjadi satu-satunya grup baroque-rock asal Inggris yang justru menuai kesuksesan masif setelah mereka memutuskan bubar. Dibentuk di St. Albans pada 1962 oleh Rod Argent (piano/organ) dan Colin Blunstone (vokal), paduan rock jazzy mereka selalu berhasil menyihir pendengar.

Dari Soul Klasik hingga Jazz di bawah Fujiyama

Sihir sinematik ini berlanjut di episode kedua saat karakter yang dimainkan Takayuki Yamada selaku petinggi Gentenkai berpidato. Doktrinnya yang manipulatif itu diguyur oleh suara merdu Carla Thomas lewat lagu gubahannya saat masih berusia 16 tahun, "Gee Whiz"

"...Gee whiz, look at his eyes. Gee whiz, how they hypnotize..." Kata ini bermakna ekspresi kekaguman seperti "whoa". Sebuah kejutan instan melihat karakter petinggi sekte tersebut tampil klimis dengan kacamata bundar layaknya John Lennon, menyamar sebagai aktivis lingkungan, sementara organisasi bawah tanahnya terus bergerak mewujudkan cita-cita klan Fuma.

Beralih pada aktivitas Gentenkai di episode ketiga. Hamparan ladang bunga kuning yang kontras dengan langit biru berlatar Fujiyama disajikan bersama senandung indah lagu klasik era 1926 susunan Irving Berlin berjudul "Blue Skies". Lagu legendaris bernuansa jazz tradisional ini memang bertindak seperti bius. Hingga menarik nama besar sekelas Bing Crosby hingga Frank Sinatra menyanyikannya.


Lagu Tema dan Cerita yang Bersenyawa

Untuk menghalau nuansa gloomy, serial ini menyelipkan lagu anak-anak yang ceria di episode keempat berjudul "Countdown" yang dibawakan oleh Push Pop Jr., Cottage Sounds Unlimited & Eva Luna. Lagu ini menjadi scoring yang sempurna saat satu-satunya anak perempuan Tawara dengan cerdik mengecoh seorang detektif swasta menggunakan teknik penyamaran warisan Oniwaban.

Kecerdikan yang sama juga dilakukan sang ibu yang memadukan outfit modis namun tetap nyaman untuk bertarung dan terlindungi identitasnya. Namun puncak kepuasan penonton terjadi saat sang ayah akhirnya memutuskan turun gunung untuk membantu anak istrinya yang terdesak.

Ekspresi tokoh yang diperankan Yosuke Eguchi ketika berkata, "Saatnya berburu",  sangat tepat ditimpa intro megah The Zombies berjudul "Gotta Get a Hold of Myself" dari album kompilasi Zombie Heaven (1966).

"...Girl, I know you're not coming back anymore. So why oh why do I keep on watching the door?
..." 

Lirik yang penuh keraguan itu menjadi metafora dari penantian panjang pemirsa terhadap kembalinya jagoan senior ini sebagai penerus sejati Hanzo Hattori.

Sambutan dentingan piano lincah The Zombies dari album Odessey and Oracle (1968), "This Will Be Our Year" yang biasanya diputar di acara pernikahan ini, membuat adegan reuni taktis keluarga Tawara terasa begitu emosional dan dramatis.

Memasuki fase-fase penuh gejolak emosi di episode kelima, serial ini memasang kembali track "Our House" dalam format versi akustik yang minimalis, masih dinyanyikan dengan apik oleh Tomo Nakayama.

Aransemen sunyi ini mengiringi atmosfer hangat di kediaman keluarga Tawara setelah mereka semua memutuskan untuk 'kembali ke khitahnya'. Konten visualnya seolah mereplikasi cerita di balik proses penciptaan lagunya sendiri.

Dalam berbagai wawancara, Graham Nash kerap mengisahkan bahwa mahakarya ini tercipta secara spontan pada tahun 1969. Persis setelah ia dan sang kekasih, membeli sebuah vas di toko barang antik. Aktivitas merangkai bunga di suatu pagi yang dingin dipindahkan dengan sangat puitis ke dalam adegan.


Sang ibu kembali menata keindahan rumahnya setelah seluruh anggota klan sepakat untuk berdamai dengan kenyataan hidup mereka. "...I'll light the fire. You place the flowers in the vase that you bought today..."

Akhir Serial yang Khas Jepang

Meski struktur naratif serial ini terhitung mudah dibaca, eksekusinya tetap terasa menohok. Kehadiran si anak hilang di episode keenam, menghadirkan dualitas rasa yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Sebuah perpaduan antara nostalgia hangat dan kecurigaan yang pekat. Di momen krusial ini, The Zombies kembali ambil kendali scoring lewat "The Way I Feel Inside" dari album perdana mereka Begin Here (1965).

"...Should I try to hide the way I feel inside...". Lagu yang minim instrumen di bagian intro ini sukses membuat napas kita tercekat. Tarikan vokal Colin Blunstone di awal lagu seolah mewakili tumpukan rahasia yang ingin dibagikan oleh para tokoh kepada penonton dalam diam.

Hingga akhirnya, konklusi cerita diturunkan pada episode kedelapan. Serial ini ditutup manis dengan berkumandangnya kembali lagu "Nothing's Changed" sebagai outro sekaligus salam perpisahan yang ironis.

"...This is just one day, but one day is enough to start all over again. Give me just one day and we will begin all over again..."

Sejujurnya saya agak terganjal di episode final. Adakah yang tahu apa judul lagu yang mengiringi kemunculan kunoichi yang datang membantu klan Hattori? Ataukah bagian dari aransemen baru Jonathan Snipes selaku komposer dari serial ini ? Silakan tinggalkan informasi di kolom komentar.

Pada akhirnya, mengurasi lagu tema untuk sebuah karya visual memang perkara gampang-gampang susah. Selera personal sang kreator jelas memegang kendali penuh sebagai penentu arah. 

Namun, di luar masalah teknis, seluruh tracklist di sini jelas sudah dimix secara presisi dengan naik-turunnya alur cerita. Suka atau tidak, selalu ada ruang 'cocokologi' yang magis antara audio dan visual di serial ini.

Komentar

  1. I'll light the fire, while you place the flowers
    In the vase that you bought today.

    Staring at the fire for hours and hours,
    While I listen to you play your love songs
    All night long for me, only for me.

    Our house, is a very, very, very fine house.
    With two cats in the yard,
    Life used to be so hard,
    Now everything is easy 'cause of you.

    Come to me now, and rest your head for just five minutes,
    Everything is done.

    Such a cozy room, the windows are illuminated
    By the evening sunshine through them,
    Fiery gems for you, only for you.

    I'll light the fire, while you place the flowers
    In the vase that you bought today.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Menakar Rasa Peranakan The Little Nyonya

Shibakomo, Kolaborasi Twin Guitars Beda Generasi