Reborn, Mengembalikan Keajaiban Namiya
Dibawakan oleh dua penyanyi berbeda / lagu dengan gaya bertolak belakang / namun memiliki judul sama persis / dengan behind the song yang serupa // Please here welcome / "REBORN" //
Dalam angan-angan, terlihat seperti itu naskah siaran afterhour untuk talk in beat pada sebuah soundtrack berjudul "Reborn". Satu lagu yang kisahnya pasti tidak asing bagi penikmat novel-novel asal Jepang yang melampaui penjualan tertinggi.
Karya Musisi Toko Ikan
Diartikan sebagai terlahir kembali, “Reborn” digubah oleh musisi amatir anak pemilik toko ikan. Nada yang ia jalin bertahun-tahun dalam tiupan harmonika berhasil menembus relung terdalam seorang anak penghuni panti asuhan. Namun musisi itu meninggal secara tragis dan mewariskan “Reborn” di ingatan belianya. Cerita ini tertuang secara apik dan menggetarkan dalam “Keajaiban di Toko Kelontong Namiya” karya Keigo Higashino.Sebagai salah satu karya best seller, sangat mudah menggali inti novel ini dari berbagai sudut pandang. Termasuk kemudian bentuk alih wahananya ke layar lebar pada 2017. Di Jepang, karya adaptasi ini dikenal sebagai live action. Menariknya selain di negara asalnya, film adaptasi juga ditemukan di Tiongkok. Artinya lagu karya musisi ikan benar-benar nyata terdengar.
Secara garis besar, Musisi Toko Ikan hanyalah satu dari sekian orang yang memutuskan mengirimkan surat pada pria tua bernama Namiya. Selain menjaga toko kelontong miliknya, Namiya Yuji dikenal sangat senang bersosialisasi. Ia memasang pengumuman jasa pemecahan masalah rahasia.
Dibalut dalam sensasi time travel khas cerita-cerita Asia Timur, mereka yang meminta solusi Namiya pada akhirnya terhubung satu sama lain meski tak saling mengenal. Alasannya karena mereka memakai nama samaran. Selain Musisi Toko Ikan, mereka bersembunyi dibalik julukan Kelinci Bulan, Bocah Nilai 100, Paul Lennon, Green River hingga Anak Anjing Yang Kebingungan. Persis seperti kebiasaan pendengar radio hingga akhir 90-an saat menyebut identitasnya di udara.
Dari lima bagian dalam novel setebal 400 halaman, kedua rumah produksi memilih beberapa bab saja untuk disesuaikan dengan pasar masing-masing. Namun mereka sepemikiran untuk mempertahankan cerita kedua.
Bab 1 - Jawaban Ada di Kotak Susu
Bab 2 - Alunan Harmonika di Malam Hari
Bab 3 - Semalam di Civic
Bab 4 - Mengheningkan Cipta Bersama The Beatles
Bab 5 - Doa dari Langit
Bab 2 - Alunan Harmonika di Malam Hari
Bab 3 - Semalam di Civic
Bab 4 - Mengheningkan Cipta Bersama The Beatles
Bab 5 - Doa dari Langit
Corak Soundtrack yang Berbeda
Mewujudkan fantasi pembaca, baik "Namiya Zakkaten no Kiseki" (Jepang) maupun Namiya (Tiongkok) sama-sama menghadirkan lagu berjudul "Reborn" dalam film. Terlepas pada adegan apa "Reborn" mengalun, keduanya sama-sama bermain ballad. Mengandalkan petikan gitar nan lembut di awal lagu.Reborn versi Jepang ditampilkan secara apik melalui akting Mugi Kadowaki sebagai Seri. Tokoh ini diceritakan tengah merintis karier sebagai penyanyi idola pendatang baru yang berangkat dari kemampuan otodidak.
Komposer film Shoji Ikenaga, meramu formula iringan akustik nan ringan khas penyanyi jalanan dalam adegan live performance. Petikan gitar akustik terasa pas mengiringi vokal polos Mugi yang terasa emosional. Karakter aransemen Jepang terdengar dari walking bassline yang berjalan naik turun seirama denting piano. Semakin unik dengan tempo perkusi yang lirih namun teratur menjaga tempo lagu sehingga menghasilkan citra kehampaan nan eksentrik.
Sementara di Tiongkok tugas menautkan "Reborn" dalam cerita, diampu oleh karakter yang diperankan Dilraba Dilmurat. Tentu saja versi ini memiliki rekaman premiumnya melalui suara Joey Jung. Hadirnya unsur orchestra dengan nada-nada pentatonis instrumen gesek terasa megah mengiring kematangan sang diva. Menggambarkan kerinduan yang mendalam. Meski sama-sama merujuk pada kisah kenangan akan Musisi Toko Ikan, "Reborn" terasa lebih bernyawa di negara asalnya.
Campur Tangan Tatsuro Yamashita
"Reborn" yang dibawakan Seri merupakan ciptaan asli musisi legendaris, Tatsuro Yamashita. Seorang hits maker yang satu zaman dengan karakter fiktif Musisi Toko Ikan. Pada era 1980-an, Tatsuro telah menjelma sebagai King of Citypop yang menggemparkan dunia. Secara tidak langsung, karakter lagu barunya harus memiliki ikatan dengan tren yang berkembang saat itu. Namun ia sadar, film ini tidak membutuhkan sebuah lagu yang harus meledak di pasaran.Tatsuro menahan ego untuk membuat konsep berbeda agar tak melampaui pencapaiannya di era tersebut. Tetap menghembuskan udara malam kehidupan urban Tokyo namun dalam bentuk yang sederhana. Permainan synthesizernya kali ini terdengar berulang tanpa layer yang berlapis. Tempo drum yang naik secara perlahan menjaganya tetap menjadi ballad citypop dengan kedalaman lirik yang dinyanyikan dengan teknik falsetto pop Jepang. Terasa seperti dalam kondisi slow motion.
「たましいは決して. 滅びることはない」. Dalam romaji, huruf-huruf ini dibaca: tama shii no kesshite, horobiru koto wa nai. Jika diterjemahkan secara bebas, bagian lirik ini bermakna jiwa tidak akan pernah binasa.
Satu lirik yang dengan cerdas menceritakan kematian tanpa terlihat kelam. Sebelum ditutup, bagian solo gitarnya terasa menyayat dengan transisi nada jazz blues yang mengalir hangat dalam balutan reverb yang clean. Jika saya orang Jepang, pastilah akan spontan mengucap “Natsukashii”.


Komentar
Posting Komentar