Sekuel Enola Holmes
London dari sudut kacamata keluarga Holmes adalah sibuk, muram dan selalu penuh teka-teki. Era industri mengantarkan derau terselubung buruh perempuan yang membawa Enola dan kakaknya turun tangan.
Berbeda dari film sebelumnya, sekuel ini bukan lagi berdasarkan novel karangan Nancy Springer. "Enola Holmes 2" justru mengambil langkah berani dengan mengadaptasi kisah mogok kerja buruh perempuan yang dimotori Sarah Chapman. Tema yang tepat untuk menjaga konsistensi isu kesetaraan gender dalam narasi.
Isu Feminis dan Sound Industrial yang Tajam
Nama Sarah Chapman sendiri terlacak dari fakta peristiwa Match Girl Strike pada 1888. Sarah adalah seorang buruh perempuan di pabrik korek api Bryant & May. Ia menyoroti perihal 14 jam kerja serta perlakuan diskriminatif terhadap kaumnya di dunia kerja. Bersama seorang jurnalis Annie Besant mereka kemudian dikenal sebagai pelopor kesetaraan gender dan keadilan di tempat kerja pada gerakan serikat buruh.
Peristiwa bersejarah inilah kemudian mengilhami plot "Enola Holmes 2" dimana tokoh Sarah dilaporkan hilang tiba-tiba oleh adiknya, Bessie. Kantor detektif yang siap ditutup akibat miskin klien, secara mendadak kembali riuh bekerja.
Dalam film, Sarah diketahui bekerja di pabrik korek api Lyon. Kabarnya yang tak terendus, mengantarkan Enola melihat dari dekat suasana di dalam pabrik. Bebunyian perkusi unik dari ketukan pipa, denting logam dan gesekan benda-benda mekanis menjadi latar belakang yang sempurna ditempat yang tinggi solidaritas itu.
Hilangnya Sarah ternyata bersamaan dengan mewabahnya kematian buruh yang diklaim pihak pabrik akibat typus. Sementara jejak penyidikan Enola menemukan realitas sebaliknya bahwa Sarah adalah orang yang mengetahui kenyataan bahwa kematian rekan-rekannya justru berasal dari penggunaan fosfor putih sebagai bahan pembuatan korek api.
Atmosfer misteri lenyapnya Sarah terasa makin intens melalui pop orkestra bertempo cepat racikan Daniel Pemberton. Dalam volume lirih, musiknya mampu mengimbangi perilaku serampangan Enola yang kadang mengagetkan di sepanjang film.
Kejutan Sherlock
Bukan rahasia bahwa gaya liar Enola kerap membuat saudara-saudaranya tidak nyaman. Namun secara kebetulan hilangnya Sarah bersentuhan dengan sebuah kasus korupsi besar yang sedang ditangani kakaknya. Dengan bantuan sang detektif ternama, Sherlock Holmes, film menjadi lebih berwarna tanpa kehilangan fokus pada Enola sendiri.
Kehadiran jagoan Baker Street itu membawa pengaruh kehidupan bangsawan abad ke-19 di beberapa adegan. Kelas sosial yang membawa Enola kembali berjumpa Viscount Tewkesburry. Saling gengsi mengakui perasaan mereka makin menguar melalui instrumen folk komedi yang menggemaskan.
Meski diiringi nuansa teater Inggris yang jenaka, namun bagaimanapun bunyi akordeon itu tetap saja menghadirkan romansa kikuk saat berlatih dansa di kamar mandi dengan iringan scoring kocak berjudul "Le Lengage de la Danse" dan romantisnya "Dancing Lesson".
Hadirnya Tewkesburry di "Enola Holmes 2" adalah udara segar dalam pengapnya malam London yang dilalui Enola. Sebagai penonton saya juga merasakannya. Perpaduan karakter gentle dan deep voicenya harus kita waspadai agar tak ikut tersipu.
Dukungan kedua laki-laki diluar komunitasnya ini sontak menguatkan Enola untuk terus yakin bahwa perempuan memiliki apinya sendiri. Dan itu tertuang dalam "One Flame To Start A Fire", sebuah nomor penutup bernuansa orkestra. Tempo yang semakin naik perlahan menyatu dengan choir yang mengesankan ketangguhan. Meski tidak hummingable, sebenarnya akan sangat terasa maknanya saat kita tak terburu melewatkan credit title di akhir film.
Komposisi Film
Judul : "Enola Holmes 2"
Sutradara : Harry Bradbeer
Pemeran : Millie Bobby Brown, Louis Partridge, Henri Carvill, Hannah Dodd
Komposer : Daniel Pemberton
Platform : Netflix
Rilis : 2022



Komentar
Posting Komentar